GARISBAWAH.COM, MEDAN — Dulu, Ulisah Inka Melia Putri Siregar kecil harus menangis untuk meminta orang tuanya membelikan keyboard. Kini, perempuan yang akrab disapa Inkaregar itu justru telah tumbuh menjadi seorang saxophoneist sekaligus menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) dari Universitas Negeri Medan (Unimed).
Inkaregar resmi diwisuda dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unimed, Jumat (28/8), di Auditorium kampus tersebut. Ia menyelesaikan kuliahnya dalam waktu tiga tahun 10 bulan dengan IPK 3,84.
Putri bungsu dari dua bersaudara pasangan H. Maruli Agus Salim, seorang wartawan, dan Nurhafsah Ritonga, seorang guru, itu memang sudah akrab dengan musik sejak duduk di bangku sekolah dasar.
“Saya masih ingat, harus menangis minta dibeliin keyboard, biola, seruling bambu dan gitar,” kenang Inkaregar.
Alumni SDN 101773 Kolam, Percut Sei Tuan, dan SMP Prayatna Medan tersebut bahkan sudah mampu memainkan keyboard sejak kelas I SD. Kecintaan itu terus berkembang hingga mengantarkannya menempuh pendidikan di SMK Negeri 11 Medan dan kemudian melanjutkan ke Unimed.
Di sela perkuliahan, Inkaregar juga aktif menjalani berbagai kegiatan. Ia sempat menjadi tenaga pengajar di SMA Sinar Husni Medan, presenter salah satu kanal media di Medan, Master of Ceremony (MC), serta tampil mengisi live music di sejumlah kafe dan restoran.
Kesibukannya semakin lengkap dengan aktivitas organisasi. Inkaregar aktif sebagai kader dan pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Unimed.
Meski memiliki banyak aktivitas, ia mampu menyelesaikan pendidikan dengan baik. Baginya, kunci menjalani berbagai kesibukan tersebut adalah kemampuan mengatur waktu.
“Semua yang saya lakukan baik sebagai pekerja, mahasiswa maupun kader PMII adalah proses belajar membangun karakter diri,” katanya.
Kecintaannya terhadap musik juga dituangkan dalam karya akademik. Skripsinya mengangkat judul “Efektivitas Musik Dangdut sebagai Terapi terhadap Emosi dan Kesehatan Mental di RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan.”
Inkaregar mengaku keberhasilannya menyelesaikan pendidikan tidak terlepas dari dukungan kedua orang tuanya.
“Ayah, khususnya Bunda saya cukup mendukung, itu mungkin menjadi nilai lebih keseriusan menyelesaikan studi saya,” ujarnya.
Momen wisuda pun terasa semakin istimewa ketika puluhan sahabatnya dari PMII datang memberikan ucapan selamat di halaman Auditorium Unimed. Kehadiran rekan-rekan seperjuangannya itu menjadi salah satu momen yang paling mengharukan bagi Inkaregar.
“Bagi saya wisuda ini hanya seremonial akademik, tapi justru membuat saya bangga dan terharu. Adalah kedatangan sahabat-sahabat warga Pergerakan,” katanya.
Setelah menyandang gelar S.Pd., Inkaregar belum ingin berhenti belajar. Ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister yang linear dengan pendidikan musik.
“Rencananya begitu, saat ini saya masih mempertimbangkan agar bisa kuliah lagi di Program Master yang linear dengan pendidikan musik,” katanya.
Ia berharap kelak dapat menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi, sembari tetap berkarya dan menekuni dunia musik yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Bagi Inkaregar, perjalanan dari seorang anak yang dulu menangis meminta alat musik hingga akhirnya menjadi sarjana bukan sekadar pencapaian akademik. Musik, pendidikan, pekerjaan dan organisasi telah menjadi ruang baginya untuk terus belajar dan membangun karakter diri. (red)

